PEMBAYARAN HUTANG

مَنْ اَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ قَبْلَ اَنْ يَحِلَّ الدَّيْنُ فَاِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَاَنْظَرَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ

“Orang yang menangguhkan pembayaran hutang orang yang belum mampu membayarnya, maka sebelum masa pembayaran itu tiba, setiap hari merupakan sedekah baginya. Dan jika masa pembayaran telah tiba, lalu ia memberi tangguh, maka setiap harinya merupakan sedekahnya dua kali lipat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/360) dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya yang menceritakan, “Saya(syaikh Al-Albany) mendengar Rasulullah shollahu alaihi wassalam bersabda:

 “Orang yang memberi tangguh pembayaran hutang kepada orang yang belum mampu membayarnya, maka dia dianggap bersedekah dengan jumlah hutang itu setiap harinya. Perawi berkata, “Kemudian saya(syaikh Al-Albany) juga mendengar beliau juga bersabda: “Orang yang memberi tangguh pembayaran hutang kepada orang yang belum mampu membayarnya, maka ia dianggap bersedekah dengan jumlah hutang itu setiap harinya.” Saya bertanya. “Wahai Rasul, Engkau bersabda: “Orang yang memberi tangguh pembayaran hutang kepada orang yang belum mampu membayarnya maka ia dianggap bersedekah dengan jumlah hutang itu setiap harinya.” Kemudian saya mendengar Engkau bersabda: “Orang yang memberi tangguh pembayaran hutang kepada orang yang belum mampu membayarnya maka ia dianggap bersedekah dengan jumlah hutang itu setiap harinya.” Beliau bersabda: “Orang itu akan mendapatkan pahala sedekah sejumlah hutang itu setiap harinya sebelum masa pembayarannya tiba. Tetapi jika masa pembayarannya sudah tiba dan ia masih memberi tangguh, maka ia mendapatkan pahala bersedekah dengan dua kali dari jumlah hutanga itu setiap harinya.”

saya(syaikh Al-Albany) berpendapat: “Sanad hadits ini shahih dan semua perawinya tsiqah serta dipakai hujjah di dalam shahih Muslim.

 Di dalam kitab Al-Mustadrak (2/29) saya juga melihat hadits tersebut. Dalam kitab tersebut, selanjutnya disebutkan: “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari-Muslim.” Sementara itu Adz-Dzahabi sependapat dengan penilaian ini. Akan tetapi ia menambahkan: “Adalah benar bahwa Sulaiman itu tidak pernah diambil haditsnya oleh Imam Bukhari. Sedang yang diambil haditsnya oleh Buhkari Muslim adalah saudaranya, yaitu Abdullah bin Buraidah

Iklan

About Abu Umair

PESANTREN LANSIA & PENSIUNAN AR-RAIHAN Memperbaiki Diri Di Usia Senja

Posted on 9 September 2014, in Hutang Piutang. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: