Ucapan ‘amin’ dari Mana Asalnya?

Sempat menjadi sebuah pemikiran dengan kata “amin” dalam sholat, itu siapa yang mengajarkan dan dari mana??mungkin artikel ini bisa menjelaskan walaupun masing banyak  kekurangan.

Kata ‘amin’  bukan dari siapa-siapa, tetapi berasal dari malaikat Jibril alaihissalam.Dan keterangannya ada di dalam hadits Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam. Tentunya sumbernya dari Allah ta’ala juga.

لَقَّنَنِي جبريل آمين عند فَراغي من فاتحة الكتاب وقال: إنه كالخاتم على الكتاب

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Malaikat Jibril mentalqinkan (membacakan) kepadaku kata’ amin’, saat aku diam setelah membaca surat Al-Fatihah, seraya berkata, “Itu seperti penutup dari suatu surat.”

Di sisi lain, mengucapkan amin di dalam shalat dijanjikan akan diampuni dosanya, berdasarkan hadits shahih berikut ini.

“إذا أمَّنَ الإمام فأمِّنوا، فإنه مَن وَافَق تأمِينه تأمِين الملائكة غُفِر له ما تَقَدَّم من ذَنْبه” رواه البخاري ومسلم

Apabila imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin. Sesungguhnya siapa yang sama amin-nya dengan amin malaikat, maka dosanya yang telah lalu diampuni. (HR Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam sebagai Rasul dan sumber syariah Islam, telah mendapatkan banyak jenis wahyu. Sebagian dari wahyu itu berbentuk ayat Al-Quran, namun jumlahnya sangat terbatas. Hanya sekitar 6000-an ayat saja. Tentu sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar pengambilan huku syariah.

Karena itu Allah ta’ala telah menetapkan bahwa apa yang diucapkan, dikerjakan bahkan yang disikapi dengan diam (taqrir) oleh nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam, juga berlaku sebagai sumber syariah Islam. Itulah yang kita sebut dengan istilah hadits atau sunnah nabi. Baik Al-Quran maupun hadits nabi, keduanya adalah wahyu. Sebab semua bersumber dari satu titik yang sama, yaitu dari Allah ta’ala. Meski masing-masing punya perbedaan yang esensial.

Di dalam Al-Quran, Allah perintahkan kita untuk mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.(QS. Al-Hasyr: 7)

Bahkan mengikuti petunjuk Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam adalah merupakan bentuk implementasi dari kecintaan kita kepada Allah SWT. Allah berfirman:

Katakanlah, “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Ali Imran: 31)

Mengapa demikian?

Karena Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam telah dijadikan utusan resmi oleh Allah ta’ala, bahkan apa yang keluar dari mulutnya tidak lain bersumber dari wahyu Allah semata. Sebagaimana firman-Nya:

dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. (QS. An-Najm: 3-4)

Maka bisa kita simpulkan bahwa mengucapkan kata ‘amin’ bukanlah mengikuti orang nasrani atau yahudi, tetapi bersumber dari agama Islam sendiri. Kalau pun ada kesamaan, yang penting Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam telah menetapkannya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Iklan

About Abu Umair

PESANTREN LANSIA & PENSIUNAN AR-RAIHAN Memperbaiki Diri Di Usia Senja

Posted on 23 Februari 2014, in Lisan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: