Jerat-Jerat Sang Penyesat

Syukur kepada Allah adalah hal yang harus kita lakukan, karena hanya dengan syukur, Allah akan menambah nikmatNya. Demikian pula syahadat persaksian kita kepada Allah dan Rasulnya adalah perkara yang harus selalu kita teliti agar semakin mendekati kepada persaksian yang kita ucapkan. 

Kehidupan kita ini pada hakekatnya adalah kehidupan yang penuh dengan pergolakan-pergolakan yang maha dahsyat karena melibatkan seluruh isi jagad. Pergolakan panjang lagi melelahkan karena takkan berakhir hingga akhir zaman. Pergolakan yang bengis dan sadis karena telah memakan trilyunan korban tanpa rasa belas kasih. Itulah pergolakan iblis dan para serdadunya dengan bani Adam, umat manusia. Bukankah semenjak iblis membangkang terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Adam karena hasad ia lalu memproklamirkan diri untuk menyeret dan menjerat anak-anak Adam ke jurang Jahannam?Sebagaimana yang telah Allah firmankan:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: “Wahai Rabbku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua.” (Al-Hijr: 39).

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ 

Juga firmanNya:
Iblis berkata: “Demi kekuasanMu aku akan sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” (Shad: 82-83)
Memang iblis teramat lihai dan cermat melihat celah untuk menggoda manusia. Terlebih ada pintu menganga untuk ikut berperan serta yaitu kecenderungan nafsu untuk berbuat jahat. Bukankah manusia punya syahwat kepada wanita, anak, harta benda dan perkara keduniawian lain?. Dan bukankah nafsu cenderung untuk berbuat menyimpang dari peraturannya?

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

 Sebagaimana firmanNya: 

“Dijadikan indah dalam (pandangan) manusia cinta kepada apa-apa yang diingini. yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (Surga).” (Ali Imran: 14).

Juga firmanNya:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan karena sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Yusuf: 53).

Celah syahwat itulah yang dibangkitkan iblis dan para serdadunya. Memang tidak terlarang suami mencintai Istrinya, tapi iblis membuat manusia buta dalam bercinta. Memang tidak terlarang manusia cinta pada anaknya tetapi iblis buatnya lalai dari penciptanya.
 

Akhirnya manusia pun tergila-gila kepada wanita, harta memperbudaknya dan putra (anak) melalaikannya. Kalau sudah demikian mereka jadi tawanan iblis atau bahkan jadi serdadunya kecuali mereka yang dirahmati Rabbnya. Maka mereka akan tersadar dan kembali ke rel semula. Rel kebenaran.

Bukankah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah mengingatkan kita dari fitnah wanita, dunia dan syahwat.

وَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ.

“Takutlah kalian terhadap dunia dan takutlah kalian terhadap wanita karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah disebabkan oleh wanita.” (HR. Muslim 4/ 2089).

Telah berjatuhan korban anak manusia karena fitnah wanita. Setan pun amat cerdik dan pandai memperalat wanita, sebagai jerat lelaki ke jurang kemaksiatan. Digerakkanlah para wanita supaya keluar rumah, dikerahkan supaya berpenampilan indah, mengobral aurat dan wajah guna memanah hati lelaki yang lemah. Hasilnya pun luar biasa. Banyak lelaki para pemuda dan orang tua terjebak ke lembah nista.

Dunia pun digelar, diramu dan dipermak indah. Nampak bagai taman hijau penuh kesejukan. Dan mulailah hati manusia disihir dengan kilauan dunia. Hasilnya pun tak disangka-sangka. Manusia berbondong-bondong bertanafus (lomba-lomba) untuk meraih dan meraup dunia. Jadilah manusia menampik agama dan menumpuk dunia. Kecuali yang dirahmati Rabbnya tetap selamat dari gebyar dunia dan wanita.

Coba perhatikan bagaimana manusia sekarang acuh-tak acuh terhadap agamanya tetapi begitu ambisi terhadap dunianya. gelar-gelar kesarjanaan pun ditumpuk untuk meraih sukses dunia. Dan mereka yang tekun terhadap agamanya dituduh kolot dan anti dunia.

Begitu pula bursa seks digelar di hampir tiap kota bahkan merambah ke desa-desa sekedar memuaskan lelaki hidung belang dan guna merusak para pemuda .

Itulah di antara tebaran syahwat setan di tengah manusia. Tanpa pandang bulu. Kalau sudah terjerat syahwat bakal ketagihan atau tergila-gila memenuhinya. Fa na’udzu billah, Wallahul musta’an.

Syubhat, senjata kedua untuk mengacau akal dan ilmu manusia. Manusia dibuat samar terhadap kebenaran agamanya. Papan paling suburnya untuk menabur benih syubhat ini adalah para juhala (orang yang kurang ilmu, bodoh tentang agamanya).
Jama’ah Jum’at yang berbahagia

Sebagai contoh pertama tentunya ingat syubhat yang disuntikkan ke bapak kita Adam dan ibunda Hawa. Apa kata iblis;

Dan syaitan berkata: “Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam Surga)”.

Iblis menampakkan diri sebagai juru nasehat bagi keduanya. Kata iblis: Allah tidak melarang mendekati pohon ini kecuali supaya tidak jadi malaikat dan tidak kekal di Surga ini.

Bukankah ini karena lihainya iblis dalam menggoda. Hanya saja Adam dan Hawa masih termasuk jenis hamba yang dirahmati Allah, karena segera taubat dari ketergelincirannya dan tidak menjadi tawanan setan apalagi bala tentara iblis.

Contoh kedua, setan bisikan dalam pikiran para pecandu bid’ah untuk menambah-nambahi dalam agama ini. Katanya menambah yang baik. Akhirnya dengan pikiran hembusan setan inilah bid’ah semakin berkembang dan bertambah pesat. Padahal mestinya mereka ingat ayat Allah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmatKu dan telah Kuridhai Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah:3)

Dan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. (رواه مسلم، 3/ 1343)

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan bukan dari perkara (agama) kami, maka tertolak.” (Riwayat Muslim 3/1343).
Maka jelas bahwa Islam ini tidak memerlukan lagi tambahan-tambahan dalam ajarannya. Karena dengan tambahan itu hanya akan menyeret ke Jahanam.
Misal ketiga syubhat yang dilemparkan setan di kalangan syi’ah. Katanya mereka mencintai ahlul bait. Memang setiap kita harus mencintai ahlul bait. Bahkan membenci ahlul bait merupakan cabang amalan kufur. Tetapi syubhat ahlul bait di kalangan syi’ah ini telah menjerumuskan ke dalam sikap pengkultusan kepada ahlul bait, bahkan sampai menuhankan. Tetapi di sisi lain terjadi pelecehan dan pelaknatan, bahkan pengkafiran terhadap sebagian sahabat agung yang lain?!
Misal keempat, syubhat di kalagan khawarij dengan dalih berhukum dengan Al-Qur’an. Tetapi mereka malah tergelincir kepada sikap pengkafiran sebagian besar sahabat dan pelaku dosa besar.
Dan masih banyak lagi berbagai syubhat yang ditebar iblis dan serdadunya, hingga manusia terjebak dan terjerat ranjau maut yang dipasangnya.
Itulah sekelumit uraian trik-trik maut yang digelar iblis dan setan sang penjerat. Semoga Allah selamatkan kita dari jerat-jerat iblis laknatullah.

Tartib: Abu Abdillah Faiq, S, Pd. I

About Abu Umair

PESANTREN LANSIA & PENSIUNAN AR-RAIHAN Memperbaiki Diri Di Usia Senja

Posted on 8 Juli 2012, in Aqidah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: