Aqiqoh

Aqiqah

1.1  Definisi Aqiqah Menurut Bahasa

(اَلْعَقِيْقَةُ) فَعِيْلَةٌ بِمَعْنَى مَفْعُوْلَةٌ أَىْ مَعْقُوْقَةٌ وَ مَذْبُوْحَةٌ مَأْخٌوْذَةٌ مِنَ اْلعِقِّ وَهُوَ الشَّقُّ وَالْقَطْعُ يُقَالُ عَقَّ يَعِقُّ بِكَسْرِ اْلعَيْنِ وَ ضَمِّهَا. [1]

“(Aqiqah)  mengikuti  wazanفَعِيْلَةٌ  yang  bermaknaمَفْعُوْلَةٌ   yaitu مَعْقُوْقَةٌ  danمَذْبُوْحَة ٌ (= yang disembelih ). (Lafadh ini) dibentuk dari اَلْعِقُّ dan dia (اَلْعِقُّ) berarti pembelahan dan pemotongan. Dikatakan يَعُقُّ dan عَقَّ – يَعِقُّ dengan kasrah ‘ain dan dlammahnya.”

Definisi aqiqah juga disebutkan dalam kitab Lisanul Arab, berikut ini:

عَقَّ عَنِ ابْنِهِ يَعِقُّ وَيَعُقُّ = حَلَقَ عَقِيْقَتَهُ أَوْ ذَبَحَ عَنْهُ شَاةً.[2]

“عَقَّ عَنِ ابْنِهِ يَعِقُّ وَيَعُقُّ artinya: Dia menggundul rambut bayi atau menyembelih dari sebab (kelahiran)nya (akan) seekor kambing.”

1.2  Definisi Aqiqah Menurut Istilah Syar’i

اَلْعَقِيْقَةُ هِيَ اَلذَّبِيْحَةُ الَّتِيْ تُذْبَحُ عَنِ الْمَوْلُوْدِ.[3]

“Al-aqiqah ialah: Hewan sembelihan yang disembelih dari (sebab) anak yang dilahirkan.”

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa definisi aqiqah adalah penyembelihan hewan sehubungan dengan kelahiran anak. Wallahu a’lam.

  1. Hadits-hadits dan Riwayat yang Dijadikan Dalil tentang Hukum Aqiqah dan Waktu Pelaksanaannya

2.1  Hadits-hadits yang Dijadikan Dalil tentang Hukum Aqiqah

2.1.1   Hadits Salman bin ‘Amir Adh-Dhabiyyi tentang Disembelihnya Hewan dan Digundulnya Rambut Bayi

2.1.1.1   Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيِّ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ r يَقُوْلُ:”مَعَ الغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَأَهرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيْطُوْا عَنْهُ الأَذَى”.

أخرجه أحمد و البخاري واللفظ له وأبوداود والترمذي والنسائى وابن ماجه والبيهقي في الكبير وابن أبي شيبة بإسناد صحيح. ورواه الحاكم عن ابي هريرة.

“Dari Salman bin ‘Amir Adh-Dhabiyyi, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Bersama dengan kelahiran anak itu ada aqiqah, maka kalian alirkanlah darah karena (kelahiran)nya, dan kalian singkirkanlah sesuatu yang mengganggu darinya.”

Telah mengeluarkannya Imam Ahmad[4], Al-Bukhari[5] sedang lafadh ini miliknya, Abu Dawud[6], At-Turmudzi[7], An-Nasa’i[8], Ibnu Majah[9], Al-Baihaqi[10] dalam kitab As-Sunanul Kubra, dan Ibnu Abi Syaibah[11] dengan sanad yang shahih.[12] Sedangkan Al-Hakim[13] meriwayatkannya dari Abu Hurairah.

2.1.1.2   Maksud Hadits

Hadits Salman bin ‘Amir menjelaskan bahwa aqiqah itu dilakukan karena adanya anak yang dilahirkan, baik anak laki-laki maupun perempuan.

2.1.2 Hadits ‘Aisyah tentang Perintah Rasul agar Menyembelih Dua Ekor Kambing untuk Anak Laki-laki dan Seekor Kambing untuk Anak Perempuan

2.1.2.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r أَمَرَهُمْ عَنِ اْلغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ اْلجَارِيَةِ شَاةٌ”.

أخرجه الترمذي واللفظ له وابن ماجه وابن حبان والبيهقي في الكبير بإسناد حسن.

“Bahwasanya ‘Aisyah telah mengabarkan kepadanya (Hafshah) bahwasanya Rasulullah saw. memerintah mereka (supaya menyembelih) untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang keduanya sebanding dan untuk anak perempuan seekor kambing.”

Telah mengeluarkannya At-Turmudzi[14], sedang lafadh ini miliknya, Ibnu Majah[15], Ibnu Hibban[16] dan Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunanul Kubra[17] dengan sanad yang hasan[18].

2.1.2.2  Maksud Hadits

Rasulullah saw. menyuruh para sahabat beliau supaya menyembelih dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan.

2.1.3  Hadits Samurah bin Jundub tentang Setiap Anak itu Tergadai dengan Aqiqahnya

2.1.3.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنْ سَمُرَةَ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ r كَانَ يَقُوْلُ: “كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُمَاطُ عَنْهُ الأَذَى وَ يُسَمَّى”.

أخرجه أَحمد واللفظ له وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه والبيهقى فى الكبير والحاكم والدارمى وابن أبي شيبه وأبو داود الطيالسى بإسناد صحيح.

“Dari Samurah bahwasanya Nabi Allah saw. bersabda: “Setiap anak yang dilahirkan itu tergadai dengan aqiqahnya. Disembelih dari (sebab kelahiran)nya pada hari ketujuhnya, dan sesuatu yang mengganggu itu dijauhkan darinya, serta ia diberi nama.”

Telah mengeluarkannya Imam Ahmad[19], sedang lafadh ini miliknya, Abu Dawud[20], At-Turmudzi[21], An-Nasai[22], Ibnu Majah[23], Al-Baihaqi[24]dalam kitab As-Sunanul Kubra, Al-Hakim[25], Ad-Darimi[26], Ibnu Abi Syaibah[27], dan Abu Dawud Ath-Thayalisi[28] dengan sanad yang shahih[29].

2.1.4  Hadits Ibnu ‘Abbas tentang Rasulullah saw. Mengaqiqahkan Kedua Cucu Laki-laki Beliau Masing-masing Seekor Kambing

2.1.4.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r عَقَّ عَنِ اْلحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ رضي الله عنهما كَبْشًا كَبْشًا.

أخرجه أَبو داود بإسناد صحيح.

“Dari Ibnu ‘Abbas “Bahwasanya Rasulullah saw. mengaqiqahkan Hasan dan Husain radliallahu ‘anhuma masing-masing seekor kambing.”

Telah mengeluarkannya Abu Dawud[30] dengan sanad yang shahih[31].

2.1.4.2  Maksud Hadits

Hadits Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa Rasulullah saw. mengaqiqahkan kedua cucu laki-laki beliau, masing-masing dengan seekor kambing.

2.1.5  Hadits ‘Amr bin Syu’aib tentang Pelaksanaan Aqiqah bagi yang Berkehendak

2.1.5.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِِ r عَنِ الْعَقِيْقَةِ فَقَالَ لاَ يُحِبُّ اللهُ الْعُقُوْقَ وَكَأنَّهُ كَرِهَ الإِسْمَ قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ r إِنَّمَا نَسْأَلُكَ أَحَدُنَا يُوْلَدُ لَهُ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَنْسُكْ عَنْهُ, عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَالْجَارِيَةِ شَاةٌ.قَالَ دَاوُدُ سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ أَسْلَمَ عَنِ الْمُكَافَأَتَانِ قَالَ الشَّاتَانِ المُشَبَّهَتَانِ تُذْبَحَانِ جَمِيْعًا”.

أخرجه أحمد وأبو داود و النسائِى واللفظ له والبيهقي فى الكبير وعبد الرزاق وابن كثير بإسناد حسن.

“Dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata: Rasulullah saw. ditanya tentang aqiqah, maka beliau bersabda: ”Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyukai ‘uquq (yakni kedurhakaan anak terhadap orang tuanya) –dan sepertinya beliau membenci nama (itu)-, dia berkata kepada Rasulullah saw., sesungguhnya tiada lain kami bertanya kepada engkau (tentang) salah seorang dari kami yang dilahirkan untuknya (seorang anak). Beliau bersabda: ”Barangsiapa (yang) menyukai bahwasanya dia menyembelih (hewan) untuk anaknya, maka hendaklah ia menyembelih untuknya, bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang keduanya sebanding dan bagi anak perempuan seekor kambing”, Dawud berkata: Aku bertanya kepada Zaid bin Aslam tentang مُكَافَأَتَانِ, dia (Zaid) menjawab: (Maksudnya ialah) dua ekor kambing yang keduanya sebanding, keduanya disembelih.”

Telah mengeluarkannya Imam Ahmad[32], Abu Dawud[33], An-Nasai[34] sedang lafadh ini miliknya, Al-Baihaqi[35] dalam kitab As-Sunanul Kubra, Abdurrazzaq[36] dan Ibnu Katsir[37] dengan sanad yang hasan[38].

2.1.5.2 Maksud Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang mau menyembelih hewan aqiqah untuk anaknya, dia boleh menyembelih.

2.2 Hadits-hadits dan Riwayat tentang Waktu Pelaksanaan Aqiqah

2.2.1  Hadits-hadits tentang Waktu Pelaksanaan Aqiqah pada Hari Ketujuh

2.2.1.1   Hadits Samurah bin Jundub (lihat hlm.6-7, no.2.1.3)

2.2.1.2   Hadits ‘Aisyah ra.

2.2.1.2.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ:” عَقَّ رَسُوْلُ الله rعَنِ اْلحَسَنِ وَ اْلحُسَيْنِ يَوْمَ السَّابِعِ وَ سَمَّاهُمَا وَأَمَرَ أَنْ يُمَاطَ عَنْ رَأْسِهِمَا الأَذَى”.

أخرجه الحاكِم واللفظ له وابن حبّان والبيهقي فى الكبير وعبد الرزاق وأبو يعلي الموصلي بإسناد حسن.

“Dari ‘Aisyah ra. berkata:”Rasulullah saw. mengaqiqahkan Hasan dan Husain pada hari ketujuh dan memberi nama keduanya serta menyuruh supaya sesuatu yang mengganggu itu disingkirkan dari kepala keduanya (digundul rambutnya).”

Telah mengeluarkannya Al-Hakim[39] sedang lafadh ini miliknya, Ibnu Hibban[40], Al-Baihaqi[41] dalam kitab As-Sunanul Kubra, Abdurrazzaq[42], dan Abu Ya’la Al-Maushuli[43] dengan sanad yang hasan[44].

2.2.1.2.2  Maksud Hadits

Rasulullah saw. menyembelih hewan aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ketujuh dan memberi nama keduanya serta menyuruh supaya rambut keduanya dicukur gundul.

2.2.1.3   Hadits Jabir bin ‘Abdullah

2.2.1.3.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنْ جَابِرٍ “أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ وَ خَتَنَهُمَا لِسَبْعَةِ أَيَّامٍ”.

أخرجه الطبرانِي واللفظ له وأبو يعلي الموصولي والبيهقي في شعب الإيمان وابن أبي شيبة بإسناد حسن.

“Dari Jabir “Bahwasanya Rasulullah saw. mengaqiqahkan Hasan dan Husain dan mengkhitan keduanya pada hari ketujuh.”

Telah mengeluarkannya Ath-Thabrani[45] sedang lafadz ini miliknya, Abu Ya’la Al-Maushuli[46], dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman[47] dengan sanad yang hasan[48].

2.2.1.3.2 Maksud Hadits

Hadits Jabir menerangkan bahwa Rasulullah saw. mengaqiqahkan kedua cucu beliau yang laki-laki dan mengkhitan mereka pada hari ketujuh dari hari kelahiran.

2.2.2  Hadits-hadits dan Riwayat tentang Pelaksanaan Aqiqah Sesudah Hari Ketujuh

2.2.2.1 Hadits ‘Abdullah bin Buraidah dari bapaknya

2.2.2.1.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ r قَالَ:”العَقِيْقَةُ تُذْبَحُ لِسَبْعٍ وَ لِلأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَ لِلإِحْدَى وَعِشْرِيْنَ”.

أخرجه البيهقي في الكبير واللفظ له والطبراني في الأوسط والصغير بإسناد ضعيف.

“Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, dari Nabi saw. bersabda:” Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh atau (hari) ke-14 atau (hari) ke-21.”

Telah mengeluarkannya Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunanul Kubra[49] sedang lafadh ini miliknya, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath[50] dan Al-Mu’jamus Shaghir[51] dengan sanad yang dla’if[52].

2.2.2.1.2 Maksud Hadits

Hadits di atas menerangkan tentang waktu penyembelihan aqiqah, yaitu: pada hari ketujuh atau ke-14 atau ke-21.

2.2.2.2 Hadits Anas bin Malik

2.2.2.2.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: عَقَّ رَسُوْلُ اللهِ r عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا بُعِثَ بِالنُّبُوَّةِ.

أخرجه عبد الرزاق واللفظ له والبزار والطبراني والبيهقي في الكبير بإسناد ضعيف.

“Dari Anas, dia berkata:”Rasulullah saw. menyembelih (hewan aqiqah) untuk diri beliau sendiri sesudah beliau diutus sebagai nabi.”

Telah mengeluarkannya Abdurrazzaq[53] sedang lafadz ini miliknya, Al-Bazzar[54], Ath-Thabrani[55], dan Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunanul Kubra[56] dengan sanad yang dla’if[57].

2.2.2.3 Riwayat ‘Aisyah dari Jalan Ummu Kurzin dan Abi Kurzin

2.2.2.3.1 Lafal, Arti dan Tahrij Hadits

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ وَ أَبِى كُرْزٍ (قَالاَ) نَذَرَتِ امْرَأَةٌ مِنْ آلِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ إِنْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ نَحَرْنَا جَزُوْرًا فَقَالَتْ عَائِشَةُ y لاَ بَلِ السُّنَّةُ أَفْضَلُ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافَئَتَانِ وَ عَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ تُقْطَعُ جُدُوْلاً وَلاَ يُكْسَرُ لَهَا عَظْمٌ فَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ وَيَتَصَدَّقُ وَلِيَكُنْ ذَالِكَ يَوْمَ السَّابِعِ فَإِنْ لَّمْ يَكُنْ فَفِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ فَإِنْ لَّمْ يَكُنْ فَفِي إِحْدَى وَ عِشْرِيْنَ”.

أخرجه الحاكم بإسناد ضعيف.

“Dari Ummu Kurzin dan Abu Kurzin (keduanya berkata:) Seorang perempuan dari keluarga ‘Abdurrahman bin Abu Bakar bernadzar:”Apabila istri ‘Abdurrahman melahirkan, (maka) kami menyembelih seekor onta”. Maka Aisyah berkata:” Jangan (menyembelih onta), tetapi menurut sunnah, yang paling utama (adalah) untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang keduanya sebanding sedangkan untuk anak perempuan seekor kambing, dipotong sepenggal-sepenggal dan tidak dipecah tulangnya. Maka dia (bisa) memakannya, memberi makan dan bershadaqah (dengannya). Dan yang demikian itu dilakukan (pada) hari ketujuh, jika tidak, maka pada hari ke-14 dan jika tidak maka pada hari ke-21.”

Al-Hakim telah mengeluarkannya dengan sanad yang dla’if[58].

2.2.2.3.2 Maksud Riwayat

Riwayat ini menunjukkan bahwa aqiqah menurut sunnah adalah menyembelih dua ekor kambing untuk kelahiran anak laki-laki dan seekor kambing untuk kelahiran anak perempuan. Ini dilakukan pada hari ketujuh atau hari ke-14, atau hari ke-21 dari kelahiran bayi.


[1] Asy-Syarqawi, Hasyiyatus Syarqawi ‘ala Tuhfah Ath-Thullab, jz.2, hlm. 470.

[2] Ibnu Mandhur, Lisanul Arab, jz.9, hlm.324.

[3] Sayid Sabiq, Fiqhus Sunnah, jz. 3, hlm. 326.

[4] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.4, hlm.17.

[5] Al-Bukhari, Ash-Shahih, jz.3, hlm.326, k. Aqiqah, Bab.2 Imathatul Adza, hd.5472.

[6] Abu Dawud, As-Sunan, jz.2, hlm.648, k.10 Adh-Dhahaya, Bab.21-Fil Aqiqah, hd.2839.

[7] At-Turmudzi, As-Sunan, jz.4, hlm.97-98, k.20 Adh-Dhahaya, Bab.12-Al-Adzan fi Udzuni…, hd.1515.

[8] An-Nasai, As-Sunan, jz.7, hlm.164, k.40 Aqiqah, Bab.2 Al-Aqiqah ‘anil Ghulam.

[9] Ibnu Majah, As-Sunan, jz.2, hlm.1056, k.27 Adz-Dzabaih, Bab. Aqiqah, hd.3164.

[10] Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jz.9, hlm.298, k. Adh-Dhahaya, Bab. Aqiqah Sunnah.

[11] Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, jz.5, hlm.111, k.16 Aqiqah, Bab.Fil Aqiqah…, hd.24229.

[12] Lihat lampiran, hlm.40, no.1.1.

[13] Al-Hakim, Al-Mustadrak, jz.4, hlm.238, k. Adz-Dzabaih.

[14] At-Turmudzi, As-Sunan, jz.4, hlm.96-97, k.20 Al-Adhahi, Bab. Majaa fil aqiqah, hd.1513.

[15] Ibnu Majah, As-Sunan, jz.2, hlm.1056, k.27 Adz-Dzabaih, Bab.1 Aqiqah, hd.3163.

[16] Ibnu Hibban, Ash-Shahih bi Tartibi Ibnu Balban, jz.7, hlm.355-356, k. Aqiqah, Bab. Aqiqah, hd.5286

[17] Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jz.9, hlm.301, k. Adh-Dhahaya, Bab. Aqiqah Sunnah.

[18] Lihat lampiran, hlm.40, no.1.2.

[19] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.5, hlm.17.

[20] Abu Dawud, As-Sunan, jz.2, hlm.648, k.10 Adh-Dhahaya, Bab.21 Fil Aqiqah, hd.2838.

[21] At-Turmudzi,As-Sunan, jz.4, hlm.101, k.20 Adh-Dhahaya, Bab.23 Minal Aqiqah, hd.1522.

[22] An-Nasa’i, As-Sunan, jz.7, hlm.166, k.40 Aqiqah, Bab. Mata Yu’aqqu.

[23] Ibnu Majah, As-Sunan, jz.2, hlm.1056-1057, k.27 Adz-Dzabaih, Bab.1 Aqiqah, hd.3165.

[24] Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jz.9, hlm.299, k. Adh-Dhahaya, Bab. Aqiqah Sunnah.

[25] Al-Hakim, Al-Mustadrak, jz.4, hlm.237, k. Adz-Dzabaih.

[26] Ad-Darimi, As-Sunan, jz.2, hlm.81, k.6 Al-Adhahi, Bab.9 As-Sunnah fil Aqiqah.

[27] Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, jz.5, hlm.111, k.16 Aqiqah, Bab.1 Fil Aqiqah Man Ra-aha, hd.24228.

[28] Abu Dawud Ath-Thayalisi, Al-Musnad, hlm.123, hd.909.

[29] Lihat lampiran, hlm.41-42, no.1.3.

[30] Abu Dawud, As-Sunan, jz.2, hlm 648, k.10 Adh-Dhahaya, Bab.21-Fil Aqiqah, hd.2841.

[31] Lihat Lampiran, hlm.42-43, no.1.4.

[32] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.2, hlm.182-183.

[33] Abu Dawud, As-Sunan, jz.2, hlm.648, k.10-Adh-Dhahaya, Bab.21-Fil Aqiqah, hd.2842.

[34] An-Nasai, As-Sunan, jz.7, hlm.162-164, k.40-Aqiqah, Bab.1-Aqiqah.

[35] Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jz.9, hlm.300, k.Adh-Dhahaya, Bab.Ma yustadallu bihi ‘ala…

[36] Abdurrazzaq, Al-Mushannaf, jz.4, hlm.330, k. Aqiqah, Bab. Aqiqah, hd.7961.

[37] Ibnu Katsir, Jami’ul Masanid was Sunan, jz.26, hlm.127-128, hd. 244 dan 245.

[38] Lihat lampiran, hlm.43-45, no.1.5.

[39] Al-Hakim, AlMustadrak ‘alas Shahihaini, jz.4, hlm.237, k.Adz-Dzabaih.

[40] Ibnu Hibban, Ash-Shahih bi Tartibi Ibnu Balban, jz.7, hlm.356, k.Aqiqah, Bab.Al-Yaumul Ladzi…, hd.5287.

[41] Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jz.9, hlm.303-304, k.Adh-Dhahaya, Bab. Ma jaa fi Wakti…

[42] Abdurrazzaq, Al-Mushannaf, jz.4, hlm.330, k. Aqiqah, Bab. Aqiqah, hd.7963.

[43] Abu Ya’la Al-Maushuli, Al-Maqshudu ‘ala fi Zawaidi Abi Ya’la, jz.1, hlm.283, k.12-As-Shaid wa…, Bab.363-Aqiqah wal Adzan, hd.648.

[44] Lihat lampiran, hlm.45-47, no.2.1.2.

[45] Ath-Thabrani, Al-Mu’jamul Ausath, jz.7, hlm.362-363, hd.6704.

[46] Abu Ya’la Al-Maushuli, Al-Maqsudu ‘ala fi Zawaidi Abi Ya’la, jz.1, hlm.283, k. 12 As-Shaid wa…, Bab.363 Aqiqah wal Adzan, hd.646.

[47] Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, jz.6, hlm.394-395, Bab. 60-Huququl walidain, hd.8638.

[48] Lihat lampiran, hlm.47-48, no.2.1.3.

[49] ِِAl-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jz.9, hlm.303, k.Adh-Dhahaya, Bab. Ma jaa fi Wakti.

[50] Ath-Thabrani, AlMu’jamul Ausath, jz.5, hlm.457, hd.4879.

[51] Ath-Thabrani, Al-Mu’jamus Shaghir, jz.1, hlm.256.

[52] Lihat lampiran, hlm.48-49, no.2.2.1.

[53] Abdurrazzaq Ash-Shan’ani, Al-Mushannaf, jz.4, hlm.329, k. Aqiqah, bab. Aqiqah, hd.7960.

[54] Al-Haitsami, Kasyful Isnad ‘an Zawaidil Bazzar, jz.2, hlm.74, Bab. Qadlaul Aqiqah, hd.1237.

[55] Ath-Thabrani, Al-Mu’jamul Ausath, jz.1, hlm.529, hd.998.

[56] Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jz.9, hlm.300, k. Adh-Dhahaya, Bab. Aqiqah Sunnah.

[57] Lihat lampiran, hlm.49, no.2.2.2.

[58] Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Shahihaini, jz.4, hlm.238, k.Adz-Dzabaih, Bab.Aqiqah wa Ayyamuha. Lihat lampiran, hlm.50, no.2.2.3.

About Abu Umair

PESANTREN LANSIA & PENSIUNAN AR-RAIHAN Memperbaiki Diri Di Usia Senja

Posted on 3 Januari 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: