DIMANA ALLAH ? Bag. 2

Apa dalil bolehnya menanyakan “di manakah Allah?”

Dari Mu’awiyah bin al Hakam radliallaahu ‘anhu, beliau mengatakan: Saya memiliki seorang budak wanita yang bertugas menggembalakan kambing-kambingku di satu tempat sekitar gunung uhud. Suatu hari saya melakukan inspeksi, tiba-tiba ada serigala yang membawa seekor kambing gembalaan. Sementara saya adalah manusia yang bisa marah sebagaimana yang lainnya, dan aku pukul budakku. Kemudian Aku melaporkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Beliau menganggap hal itu sebagai kesalahan besar. Aku bertanya: “Yaa Rasulullah, haruskah aku merdekakan budak tersebut?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bawa dia kemari.” Kemudian aku bawa budakku menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Beliau bertanya: “Di manakah Allah??” budak tersebut menjawab: “Di atas.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budakku menjawab: “Anda Rasulullah.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Bebaskan dia, karena dia orang yang beriman.” (HR. Muslim 1227, Abu Daud 931, An Nasa’I 1217, Ahmad 24485, Imam Malik dalam Al Muwattha’ 1473 & dishahihkan Syaikh Al Albani).

Tentang status keshahihan hadis ini tidak perlu untuk dibahas. Cukuplah rekomendasi Imam Muslim dan pakar hadis lainnya sebagai bukti keshahihannya.

Bersambung…(2)

Pada edisi sebelumnya, telah kita bahas hukum mengkaji atau bertanya tentang Dzat Allah ta’ala. Ringkasnya bahwasanya bertanya atau mengkaji tentang Dzat Allah itu dibagi menjadi 2, sebagai berikut:

  1. Pembahasan yang berdasarkan dalil à boleh, bahkan termasuk kajian yang derajatnya paling utama
  2. Pembahasan tanpa dalil, hanya mengandalkan logika, sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli filsafat yang ngaku-ngaku berlabel islam à haram, bahkan dinilai dosa yang lebih parah dari pada kesyirikan, karena ini berarti berkomentar tentang Allah tanpa dalil.

Di akhir kajian pada buletin edisi yang lewat kita akhiri dengan menyebutkan dalil dari hadis yang secara tegas menunjukkan bahwa Allah berada di atas. Agar lebih terkesan bagi pembaca, tidak ada salahnya jika hadis tersebut kita ulangi:

Dari Mu’awiyah bin al Hakam radliallaahu ‘anhu, beliau mengatakan: Saya memiliki seorang budak wanita yang bertugas menggembalakan kambing-kambingku di satu tempat sekitar gunung uhud. Suatu hari saya melakukan inspeksi, tiba-tiba ada serigala yang membawa seekor kambing gembalaan. Sementara saya adalah manusia yang bisa marah sebagaimana yang lainnya, dan aku pukul budakku. Kemudian Aku melaporkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Beliau menganggap hal itu sebagai kesalahan besar. Aku bertanya: “Yaa Rasulullah, haruskah aku merdekakan budak tersebut?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bawa dia kemari.” Kemudian aku bawa budakku menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Beliau bertanya: “Di manakah Allah??” budak tersebut menjawab: “Di atas.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budakku menjawab: “Anda Rasulullah.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Bebaskan dia, karena dia orang yang beriman.” (HR. Muslim 1227, Abu Daud 931, An Nasa’I 1217, Ahmad 24485, Imam Malik dalam Al Muwattha’ 1473 & dishahihkan Syaikh Al Albani).

Perlu diketahui, dalil yang menunjukkan keabsahan aqidah bahwasanya Allah berada di atas sangat banyak. Cukup untuk dikatakan: sangat buaanyak sekali, meskipun kalimat ini terlarang dalam bahasa indonesia. Sampai Ibn Abil Izz setelah membawakan banyak dalil yang menunjukkan secara tegas bahwa Allah di atas, beliau mengatakan: “Demikian adalah beberapa dalil (yang menunjukkan Allah di atas), andaikan masing-masing disebutkan, akan mencapai sekitar seribu dalil.” (Syarh Aqidah Thahawiyah II/442).

Namun kita sebutkan hadis Mu’awiyah di atas, mengingat ada beberapa pelajaran penting terkait dengan masalah aqidah yang dapat kita ambil, diantaranya:

Pertama, bertanya di manakah Allah bukanlah termasuk pertanyaan yang lancang dan kurang ajar. Bahkan Nabi r sendiri yang melakukannya. Mungkin ada orang yang bekomentar: “Bisa jadi bertanya seperti itu hanya kekhususan bagi Nabi r yang tidak boleh diikuti oleh umatnya yang lain.” Pertanyaan ini ada sisi benarnya. Namun riwayat berikut barangkali bisa menutup dan menjawab dugaan tersebut:  “dari Abu Razin Al ‘Uqaily, beliau mengatakan: Aku bertanya kepada Nabi r: yaa Rasulallah, di manakah Rab kita –tabaraka wa ta’ala– berada sebelum menciptakan langit dan bumi? Nabi r menjawab: “Dia berada jauh di atas awan, yang di atas (awan tersebut, pen.) tidak ada udara demikian pula di bawah awan tersebut tidak ada udara. Kemudian Allah menciptakan ‘Arsy kemudian Dia berada di atas ‘Arsy. (HR. At Turmudzi 3394 & Ahmad 16617). Hadis ini dinilai hasan-shahih oleh At Turmudzi namun didlaifkan oleh sebagian ulama. Hadis ini menunjukkan bahwa bertanya “di manakah Allah?” bukanlah kekhususan bagi Nabi r. Karena itu adalah pertanyaan yang mungkin untuk dijawab.

Kedua, hadis ini menunjukkan Allah di atas secara tegas tanpa perlu takwil. Dalil-dalil yang lain masih sangat banyak sebagaimana keterangan yang lewat.

Ketiga, keyakinan bahwa Allah berada di atas adalah aqidahnya para sahabat. Oleh karena itu, beliau tidak menanyakan hal ini kepada Mu’awiyah bin Al Hakam, karena hal itu sudah maklum diketahui oleh para sahabat. Namun beliau tanyakan ini kepada orang yang belum diketahui status islamnya.

Keempat, Nabi r menjadikan keyakinan seseorang tentang dimanakah keberadaan Allah ta’ala sebagai standar kebenaran iman seseorang tentang Allah.

Oleh karena itu, sebagian ulama mengkafirkan orang yang tidak mengetahui dimanakah Allah. Imam Abu Hanifah ditanya tentang seseorang yang mengatakan: “Aku tidak tahu dimanakah Rabku, di langit atau di bumi.” Kata Imam Abu hanifah: “orang ini kafir. Karena Allah telah berfirman, (yang artinya): “Ar Rahman (Allah) berada di atas ‘Arsy.(QS. Taha: 5). Dan ‘ArsyNya Allah berada di atas langit yang tujuh.” Kemudian beliau ditanya lagi: “Bagaimana dengan orang yang yakin bahwa Allah berada di atas Arsy namun dia tidak tahu di manakah ‘Arsy, di bumi ataukah di langit?” kata Imam Abu Hanifah: “Orang ini kafir, karena dia mengingkari (tidak meyakini) bahwa ‘Arsy berada di atas langit. Sehingga, siapa yang mengingkari bahwa ‘Arsy berada di atas maka dia kafir.” (Syarh Aqidah Thahawiyah Ibn Abil Izz 2/442).

Kelima, bertanya tentang sesuatu yang ada dalilnya tidak termasuk pertanyaan yang terlarang. Lain halnya dengan pertanyaan yang tidak berdalil, seperti bertanya tentang warna Allah, DzatNya terbuat dari apa, rasanya bagaimana dan yang semisalnya.

Keenam, keyakinan bahwasanya Allah berada di atas tidaklah menunjukkan bolehnya membayangkan bagaimana keadaan Allah di atas ‘ArsyNya. Apakah seperti raja yang duduk di singgasanannya atau seperti orang naik kuda ataukah ada kemungkinan yang lainnya. Bahkan khayalan semacam ini terlarang secara mutlak. Oleh karena itu, sebagian ulama menilai bid’ah menanyakan kaifiyah (tata cara) tentang perbuatan dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an maupun hadis. Imam Malik bin Anas ditanya: “Bagaimanakah cara Allah bersemayam di atas ‘Arsy?” Beliau sangat marah dan menjawab: “Semua orang faham maksud bersemayam, namun bagaimana cara bersemayamnya Allah tidak ada satupun yang tahu…” Kemudian beliau memerintahkan agar orang yang bertanya tadi dikeluarkan dari majlisnya. (lih. Syarh Lum’atul I’tiqad Syaikh Al Utsaimin 69).

Demikian beberapa pelajaran yang bisa kami hadirkan. Barangkali ada pembaca yang ingin menambahkan keterangan berdasarkan penjelasan dari ulama, kami persilahkan dan kepadanya disampaikan terima kasih.

Konsekwensi Negatif Jawaban Yang Salah

Satu lagi yang juga sangat penting untuk kita perhatikan, terkait dengan jawaban salah yang dilontarkan seseorang ketika ditanya: Di manakah Allah?! Kita tidak bileh menanyakan yang bertanya, karena pertanyaan ini bukanlah tindakan lancang kepada Allah, bahkan termasuk pertanyaan yang disyari’atkan dalam rangka menguji keimanan seseorang. Sebagaimna penjelasan yang lewat. Permasalahannya adalah pada jawabannya. Diantara jawaban yang banyak dilontarkan adalah: Allah berada di mana-mana, Allah berada di hati orang yang beriman, Allahu akbar sambil dibayangkan seolah-olah makhluq ada di dalam Dzat Allah, atau jawaban semisalnya.

Semua jawaban tidak lepas dari beberapa kekeliruan:

Jawaban Allah berada di mana-mana menuntut satu konsekwensi bahwa Allah berada di setiap tempat di muka bumi ini, tak terkecuali kamar mandi, WC, tempat sampah, atau tempat-tempat kotor lainnya. Setiap akal sehat akan menganggap hal ini sebagai tindakan lancang dan kurang ajar kepada Allah. Bagaimana tidak, ketika Dzat Yang Maha Mulia diposisikan di tempat-tempat yang buruk bagi pandangan manusia.

Allah berada di hati setiap orang yang beriman memberikan satu konsekwensi bahwa Allah itu sejumlah orang yang beriman, jika ada 5 juta orang yang beriman maka sejumlah itu pula keberadaan Allah. Disamping itu, jika orang yang beriman itu masuk ke tempat-tempat yang dianggap buruk semacam WC atau yang lainnya maka Allah juga ikut bersamanya. Dan jika orang yang beriman ini mati maka keberadaan Allah pada orang tersebut hilang atau ikut dikuburkan…??? Cukuplah kita berdo’a: Semoga Allah melindungi kita dari ucapan kotor semacam ini.

Allahu Akbar…sambil dibayangkan bumi dan seisi kehidupan ini berada di dalam Dzat Allah yang mulia. Artinya manusia, jin, dan alam semesta ini adalah bagian dari Dzat Allah…

Tidak ada kalimat yang pantas untuk kita ucapkan ketika mendengar jawaban semacam ini selain mensucikan Nama Allah yang agung seraya mengatakan: Maha Suci Allaah dari segala kekurangan dan keburukan. Kemudian kita ikuti dengan istighfar… semoga bermanfaat.

Bersambung…(3)

Dalil-dalil qur’an dan sisi pendalilannya…

Dalil-dalil hadis dan sisi pendalilannya…

Perkataan para ulama…

وَقَالَ أَبُو الْحَسَن عَلِيّ بْن مُحَمَّد الطَّبَرِيُّ مِنْ كِبَار أَصْحَاب أَبِي الْحَسَن الْأَشْعَرِيّ ” وَاَللَّه فِي السَّمَاء فَوْق كُلّ شَيْء ، مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشه بِمَعْنَى أَنَّهُ عَالٍ عَلَيْهِ

Makna ayat dan hadis yang menunjukkan bahwa Allah dekat dengan hamba…

Manunggaling kawula lan gusti

Kesalahan fatal orang sufi…

About Abu Umair

PESANTREN LANSIA & PENSIUNAN AR-RAIHAN Memperbaiki Diri Di Usia Senja

Posted on 30 September 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: