DIMANA ALLAH ? Bag. 1

Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang merasa heran dengan pertanyaan ini… ada yang bingung karena merasa baru saat ini dia mendengar pertanyaan ini… ada yang menganggap ini tidak perlu dibahas. Karena tidak ada sisi positif terhadap perkembangan ekonomi umat dan teknologi… ada yang menganggap ini pertanyaan kurang ajar dan tidak beradab… atau bahkan sebaliknya… ada yang berusaha cari-cari jawaban karena menganggap apa salahnya orang bertanya demikian dan ini tantangan baginya untuk menjawab…
Jangan heran dan jangan cemas wahai pembaca yang budiman…, tidak ada maksud sedikitpun untuk menyesatkan anda.. sebaliknya tema ini sengaja dibuat dalam rangka meluruskan pemahaman salah kaprah yang sudah akut di tengah-tengah masyarakat kita… Bahaya-kah jika pemahaman dalam masalah ini salah?? Anda jangan menjawab: “tidak bahaya..”. Karena kesalahan dalam masalah ini menyangkut surga dan neraka.
Mungkin barangkali anda merasa pembahasan ini tidak berhubungan secara langsung dengan peningkatan kualitas hidup anda dunia. Atau bahkan ada yang merasa pembahsan ini justru akan memecah belah umat. Apapun itu, satu hal yang perlu diingat, kesalahan dalam keyakinan ini mengancam kualitas hidup di akhirat!!.
Ah.. jangan sok tahu..memangnya kamu sendiri yang benar??
Tenang dulu kawan… jangan keburu lari… baca dulu uraiannya baru komentar… semoga Allah memberi taufiq kepada saya dan Anda.

Bahaya Komentar Atas Nama Allah Tanpa Dalil
Ada beberapa kemungkinan jawaban yang akan diberikan oleh sebagian kaum muslimin ketika ditanya: “Dimanakah Allah?”. Ada yang menjawab: “Allah di mana-mana.” Ada yang menjawab: “Allah ada di hati setiap orang yang beriman.” Ada juga yang menjawab “Allaahu Akbar..” dengan disertai persepsi bahwa langit dan bumi beserta isinya berada dalam rongga Dzat Allah yang Mulia.
Jawaban-jawaban ini tidak hanya dilontarkan kalangan yang belum banyak belajar agama. Mereka yang mengaku dirinya memiliki tsaqafah islamiyah-pun memberikan jawabah yang sama. Bahkan salah satu motto buku berlabel ISLAM, yang membahas teori gabungan antara IQ, EQ, dan SQ, berisikan satu pernyataan: “Allah berada di hati setiap orang yang beriman.”
Namun sungguh disayangkan, tidak ada satupun diantara yang mengajukan jawaban tersebut yang sekaligus mengajukan dalilnya. Kita ucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un…ada musibah besar, kaum muslimin telah berani berkomentar tentang Allah tanpa dalil.
Anda tau bahaya komentar tentang Allah tanpa dalil?? Berikut beberapa dalil yang menunjukkan bahayanya berkomentar tentang Allah atau atas nama Allah tanpa dalil:
Pertama, Dosa ini disejajarkan oleh Allah dengan perbuatan kesyirikan. Allah berfirman yang artinya:
“Allah hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berkoentar tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS: Al A’raf 33).
Dalam ayat ini, Allah mengurutkan tingkatan dosa menjadi empat. Dimulai dari yang terendah yaitu perbuatan keji, kemudian tingkatan kedua, perbuatan dosa dan kedhaliman, kemudian tingkatan ketiga, perbuatan kesyirikan, dan tingkatan tertinggi yang paling haram adalah berkomentar tentang Allah tanpa dalil (ilmu). Komentar ini mencakup semua hal baik yang terkait dengan nama & sifatNya, perbuatanNya, agamaNya, maupun syari’atNya. (I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qoyyim, jilid 1 hal. 38). Ibnul Qoyyim memberikan alasan sikap beliau dalam memposisikan dosa ini sebagai dosa terbesar. Beliau mengatakan: “Karena komentar tentang Allah tanpa dalil mengandung kedustaan atas nama Allah, menisbahkan kedustaan tersebut kepada hal yang tidak layak untuk Allah, mengubah agamaNya… dan mensifati Allah dengan sifat yang tidak layak diberikan kepada Allah baik terkait dengan dzatNya, firmanNya, maupun perbuatanNya…. Dan ini adalah pondasi kesyirikan dan kekafiran. Di atas pondasi ini perbuatan bid’ah dan kesesatan dibangun…. Oleh karena itu, para ulama masa silam memberikan pengingkaran yang sangat keras terhadap komentar semacam ini, yang tidak sekeras pengingkaran mereka terhadap perbuatan kekejian dan kedlaliman…” (Madarijus Salikin 1/372).
Kedua, komentar ini bisa menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka meskipun pelakunya tidak merasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka”. (HR. Al Bukhari 6478)
Kata Al Hafidz Ibn Hajar dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan.
Pernahkah kita merasa akan bahaya hal ini, ketika kita berkomentar tentang Allah tanpa dalil?? Pernahkah kita merasa takut ketika jawaban yang kita berikan itu salah. Kemudian Allah membantah komentar kita dengan berfirman: “Kamu dusta.!”, “Bohong kamu..!” Bertaqwalah kepada Allah…wahai kaum muslimin… jagalah lidah yang tidak bertulang ini dari komentar tentang Allah tanpa dalil.

Apakah Pertanyaan Ini Terhitung Lancang di Hadapan Allah?
Sekilas, orang akan menganggap pertanyaan ini adalah sikap lancang yang haram untuk ditanyakan atau bahkan haram dibayangkan dalam diri seorang muslim. Untuk apa kita bertanya-tanya tentang Dzat Allah?? Ngurus diri sendiri aja gak pecus…! Pikirkan saja dirimu…, jangan mikir yang tidak-tidak!
Ketahuilah wahai saudaraku muslim.., sesungguhnya keutamaan ilmu itu mengikuti keutamaan obyek ilmu tersebut. Ilmu kedokteran lebih mulia dibanding ilmu kesenian, Ilmu Teknik lebih mulia dibanding ilmu masak-memasak, ilmu pemerintahan lebih mulia dibandingkan ilmu tata rias kecantikan. Bagaimana dengan ilmu tentang Allah, DzatNya, sifatNya, dan Syari’atNya? Jangan ragu untuk menjawab: ini adalah ilmu yang paling mulia.! Karena objek kajian ilmu ini adalah Dzat Yang Maha Mulia dan Agung.
Ibnul Qoyyim mengatakan: “Barangsiapa yang mengenal Allah maka dia akan mengenal selain Allah. Siapa yang bodoh tentang Allah maka tentu dalam masalah yang lain dia lebih bodoh. Allah berfirman, yang artinya:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri.” (QS. Al Hasyr 19)
Kemudian Ibnul Qoyyim melanjutkan: “Renungkanlah ayat ini, engkau akan temukan makna yang agung dan mendalam. Dimana orang yang melupakan ilmu tentang Allah maka Allah membuat dia lupa akan jasadnya dan dirinya. Jadilah dia orang yang tidak mengenal hakekat dirinya dan apa yang manfaat untuk dirinya. Bahkan dia tidak tahu apa yang bisa bermanfaat dan bisa membahagiakan kehidupannya di dunia dan di akhirat. (Miftah Daris Sa’adah 1/86).
Perhatikanlah saudaraku… membahas tentang Dzat dan sifat Allah tidaklah tergolong tindakan kurang ajar kepada Allah. Selama pembahasan ini dibangun di atas dalil Al Qur’an maupun Hadis. Bahkan kajian ini menduduki tingkatan kajian paling tinggi, sebagaimana penjelasan di atas. Oleh karena itu, janganlah anda merasa risih dan gusar ketika mendengar kajian tentang Dzat Allah dan sifat-sifat DzatNya. Sekali lagi, selama itu semua dibangun di atas dalil yang shahih.

About Abu Umair

PESANTREN LANSIA & PENSIUNAN AR-RAIHAN Memperbaiki Diri Di Usia Senja

Posted on 27 September 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: