HUKUM MENGADOPSI ANAK

Zaid bin Haritsah adalah seorang budak yang berada di bawah kekuasaan Nabi Muhammad Shollahu alahi wassalam. Namun oleh Rasulullah shollahu alahi wassalam diperlakuan dengan sangat kasih, seperti layaknya seorang ayah kepada anaknya. Read the rest of this entry

KIBLAT PERTAMA, DI GENGGAM YAHUDI

Kalau kita punya iman dan tsiqah yang kuat kepada Allah ta’ala, sesungguhnya musuh-musuh Allah itu sangat lemah, kecil dan tidak berdaya. Karena Allah pasti akan menolong kita dan menguatkan pijakan kita. Read the rest of this entry

TAHUN BARU HIJRIYAH

Sebelumnya mari kita perhatikan sejarah tahun baru hijriyah. Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, kaum muslimin belum mengenal pergantian tahun hijriyah.

Read the rest of this entry

ADZAN DUA KALI DI HARI JUM’AT

bahwa di zaman Rodiyahullahu anhusulullah -shollahu alahi wassalam-, adzan pada shalat Jumat hanya dikerjakan sekali saja, yaitu saat khatib naik mimbar. Read the rest of this entry

KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH

Bulan Dzulhijjah, bulan ke-12 bulan penutup kalender hijriyah sudah di depan mata, bahkan sekarang kita sudah memasukkinya bulan yang penuh dengan keberkahan dan limpahan pahala, barangkali sedikit penjelasan di bawah ini bisa Read the rest of this entry

PERLUASAN KA’BAH

 يَاعَائشَةُ، لَوْلاَ اَنَّ قَوْمِكِ حَدِيْثُوْ عَهْدٍ بِشْرِكٍ [ وَلَيْسَ عِنْدِىْ مِنَ النَّفَقَةِ مَا يُقَوِّىْ عَلىٰ بَنَاءِه ،] َلاَنْفَقْتُ كَنْزَ الْكَعْبَةِ ، فِى سَبِلِ اﷲِ ، وَ ] لَهَدَمْتُ الْكَعْبَةِ ، فَاَزْلَقْتُهَا بِاْلاَرْضِ [ ثًمَّ لَبَنَيْتُهَا عَلىٰ اَسَاسِ اِبْرَهِيْمَ ] وَجَعَلْتُ لَهَا بَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا [يَدْخُلُ النَّاسُ مِنْهُ ] ، وَبَابًا غَرْبِيًّا [يَخْرُجُوْنَ مِنْهُ ] [ وَاَلْزَقْتُهَا بِاْلاَرْضِ ] وَزِدْتُ فَيْهَا سِتَّةَ اَذْرُعٍ مَنَ الْحِجْرَ – وَفِى رِوَايَةٍ : وَ َلاَدْخَلْتُ فِيْهَاالْحِجْرَ . فَاِنَّ قُرَيْشًااقْتَصَرَتْهَا حَيْثُ بَنَتِ الْكَعْبَةَ. [ فَاِنْ بَدَالِقَوْمِكِ مِنْبَعْدِى اَنْ يَبْنُوْهُ فَهَلُمِّىْ لاُِرِيَكِ مَاتَرَكُوْ مِنْهُ فَاَرَاهَا قَرِيْبً مِِنْ سَبْعَةِ اَذْرُعٍ ]

Read the rest of this entry

PEMBAYARAN HUTANG

مَنْ اَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ قَبْلَ اَنْ يَحِلَّ الدَّيْنُ فَاِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَاَنْظَرَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ

“Orang yang menangguhkan pembayaran hutang orang yang belum mampu membayarnya, maka sebelum masa pembayaran itu tiba, setiap hari merupakan sedekah baginya. Dan jika masa pembayaran telah tiba, lalu ia memberi tangguh, maka setiap harinya merupakan sedekahnya dua kali lipat.”
Read the rest of this entry

Ada Apa dengan Waktu Magrib ?

اِذَ ا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ فَكَفُّواْ صِبْيَانَكُمْ فَاِنَّ الشَّيَاطِينِ تَنْتَشِرُ حَيْنَئِذٍ ، فَاِذَا ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ فَخَاوَهُمْ

Jika kegelapan malam telah datang, maka tahanlah anak-anakmu. Karena pada saat itu setan-setan sedang gentayangan. Dan jika saat Isya’ hampir berlalu, maka lepaskanlah mereka.” Read the rest of this entry

MENYAYANGI BINATANG

اَفَلاَتَتَّقِ اﷲَ فِى هٰذِهِ اْلتَيْتَتِ الَّتِيْ مَلَّكَكَ اﷲُ اِيَّاهَا فَاِكَنَنَّهُ شَكَا ُّاِلَىَّ اَنَّكَ تُحِيْعُهُ وَتُدْءِبُهُ

 “Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini, yang telah diberikan kepadamu oleh Allah? Dia telah melapor kepadaku bahwa engkau telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.” Read the rest of this entry

Hukum Bid’ah

 

Mukaddimah

Bilamana seorang Muslim ingin amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka hendaknya dia melakukannya sesuai dengan yang diperintahkan-Nya dan Rasul-Nya dan tidak mengada-adakan sesuatu ibadahpun dengan mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya padahal tidak ada landasannya.
Sebab, amalan seperti ini pasti tertolak karena termasuk perbuatan bid’ah. Nah, apa hukumnya bid’ah itu? Dan apa implikasinya?

Naskah Hadits

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أحْدَثَ فيِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ.
وفي رواية لمسلم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari’atkan), maka ia tertolak.” (HR.al-Bukhari)
Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak.”

Urgensi Hadits

Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata, “Hadits ini layak sekali untuk diingat dan dijadikan sebagai saksi/bukti terhadap kebatilan semua perbuatan munkar.”

Beberapa Arahan Hadits

  • Hadits ini mengandung makna bahwa Dienullah adalah dien yang sempurna, tidak menerima penambahan ataupun pengurangan. Dan inilah yang dapat disimpulkan dari firman-Nya (artinya), “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (Q.s.,al-Mâ`idah:3). Oleh karena itu, wajib bagi seorang Muslim untuk mengamalkan wahyu yang berasal dari Allah melalui Rasul-Nya, tanpa menambah atau menguranginya.
  • Barangsiapa yang menambahkan sesuatu ke dalam Dienullah padahal bukan berasal darinya, maka ia tidak diterima di sisi Allah dan tertolak atas pelakunya. Barangsiapa, misalnya, yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan melakukan shalat yang tidak disyari’atkan-Nya, maka ia tidak akan diterima, pelakunya berdosa dan dijuluki sebagai Mubtadi’ (pelaku bid’ah).
  • Seorang Muslim wajib menyuriteladani Rasulullah di dalam semua perbuatan, prilaku dan tindakannya.
  • Hukum asal di dalam semua praktik ibadah itu adalah bersifat Tawqîfiyyah. Artinya, bahwa pentasyri’an (penggodokan syari’at) hanya sebatas apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam, disertai penyerahan diri atas hal itu dan meyakini amalan ini sebagai pembawa kebaikan yang mutlak, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.s.,an-Nisâ`:65)
  • Suatu ibadah tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat:
    Pertama, Menjadikannya ikhlash semata-mata karena Allah Ta’ala.
    Kedua, Hendaknya ia sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits dalam kajian ini.
  • Siapa saja yang telah keluar dari manhaj Ittibâ’ (mengikuti) Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam maka berarti dia telah masuk ke dalam manhaj Ibtidâ’ (berbuat bid’ah) dan Ihdâts (mengada-ada) di dalam agama. Padahal Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam telah bersabda (artinya), “Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka.” (HR.an-Nasa`iy dari hadits yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdullah)
  • Diantara implikasi dari perbuatan Bid’ah adalah:
    • Menuduh Rasullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam telah menyembunyikan sesuatu terhadap umat manusia dengan tidak menyampaikannya kepada mereka.
    • Siapa saja yang berjalan di atas rel manhaj Ibtidâ’ , berarti dia telah menganggap baik manhaj ini dan telah menjadi orang yang menambahi sesuatu yang tidak diizinkan Allah di dalam dien-Nya.
    • Pelaku bid’ah selalu berupaya keras di dalam mengamalkan kebid’ahannya dan hal ini semua akan hilang percuma bahkan akan menjadi dosa yang akan dipikulnya kelak.

(SUMBER: Silsilah Manâhij Dawrât al-’Ulûm asy-Syar’iyyah
-al-Hadîts- Fi`ah an-Nâsyi`ah- karya Prof.Dr.Fâlih bin Muhammad ash-Shaghîr, et.ali., h.56-58)

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.